Kisah Nyata Dari Tanah Suci , Menuju Gua Hiro

Menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah banyak diwarnai kisah-kisah nyata yang kadang-kadang diluar logika , tetapi itu semua mengandung althikmah dan pembelajaran sangat berharga bagi siapa saja yang mengalami peristiwa itu .

Ziarah Ke Gua Hiro Di Jabal Nur .

Setelah selesai menjalankan ibadah haji banyak jemaah haji yang melakukan ziarah ke Gua Hiro tempat Rasulullah menerima wahyu pertama dengan perantaraan malaikat Jibril. Wahyu pertama yaitu surat Al Alaq ayat 1 sampai ayat 5 , turun tanggal 17 Ramadhan ( enam Agustus enam ratus sepuluh Masehi ) )Untuk menuju Gua Hiro harus melakukan pendakian bukit terjal Jabal Nur yang penuh dengan bebatuan . Diperlukan waktu sekitar 1  untuk mendaki bukit yang terletak 5 km  dipinggiran utara  Mekkah .

Saya bersama 4 orang petugas liputan Haji RRI mengagendekan ziarah ke Gua Hiro di Jabal Nur yang tingginya sekitar 300 meter . Tim memutuskan salah seorang teman tidak diikutkan dalam pendakian Jabal Nur karena mengidap penyakit jantung  dan  belum lama   selesai operasi di Jakarta . Saya tidak usah menyebutkan namanya .

Sakit Jantung .

Tehnisi RRI Jakarta ini protes keras karena tidak disertakan dalam pendakian yang berat itu . Ia tidak menerima alasan  Tim yang  hawatir kalau terjadi hal-hal tidak diinginkan . Penyakit jantungnya sewaktu-waktu bisa kambuh dalam pendakian di Jabal Nur  . Buktinya saat tawaf mengelilingi Ka'bah , ia harus dipapah  Bung Dirman Halla ( kini sudah almathum ) .Walaupun ia  menyanggupi menanggung  segala resiko .tetapi Tim tetap tidak mengijinkan ikut . Tim tidak berani mengambil resiko . Tehnisi RRI itu tetap bersikeras untuk ikut serta ziarah ke Gua Hiro . Ia beralasan bahwa Allah Swt akan selalu melindunginya . Akhirnya atas segala pertimbangan bahwa semua bergentung kepada Allah Swt , Tim sepakat mengijinkan dia ikut dalam pendakian ke Gua Hiro.

Dari kaki bukit yang terjal kami mulai mendaki dengan  penuh kehawatiran akan keselamatannya . Rasa was-was menyelimuti kami . Tetapi dia sendiri terlihat tenang dan bersemangat  . Setiap 10 menit dalam  perjalanan saya bertanya tentang kondisinya . Ia menjawab tenang , Insya Allah Pak saya sanggup . Teman-teman lain juga sangat peduli keadaan anggota Tim yang satu ini . Setelah pendakian berlangsung setengah jam , ia tidak tampak lagi diantara kami yang mulai terengah-engah sebab tidak ada tempat yang datar . Kalaupun mau istirahat di tengah jalan , terpaksa duduk di bebatuan . Memang ada anak-anak tangga di jalan setapak  , tetapi terdapat setelah dua pertiga perjalanan .

Subhanallah, Ia sudah di Puncak


Kami terus mendaki  dengan perasaan hawatir akan kondisi jantungnya  . Dalam benak saya , ia masih tertinggal jauh diantara kami  . Kami beranggapan bahwa ia tidak mungkin bisa melampui kami  .Akhirnya dengan bermandi keringat dan terengaah-engah kami   hampir sampai  puncak  Jabal Nur .

Saya menengadah  ke Puncak Jabal Nur . Subhanallah dia sudah ada diatas sana dengan tersenyum melampaikan tangannya . Tidak terlihat keletihan diraut mukanya . Ternyata ia sudah sampai di Puncak Jabal Nur 15 menit yang lalu . Jadi tim tertinggal 15 menit dari dirinya , padahal dia mengidap penyakit jantung . Allahuakbar ,Allah Maha Besar . Dia ternyata tidak merasakan gangguan apa-apa dengan jantungnya .

Sebagai seorang reporter RRI peliput ibadah haji  , saya menjadikan peristiwa itu sebagai materi laporan ke Tanah air dalam siaran Liputan Haji . Ia mengatakan sangat yakin Allah memberi jalan bagi hambanya dalam berbuat baik . Dalam perjalanan ia hanya yakin tidak ada kekuatan bagi manusia kecuali kekuasaan Allah . La haulawala Kuataillah Billahilaliyilazim . Ayat itu yang selalu dia baca sepanjang pendakian menuju pucak Jabal Nur lalu menelusuri lorong kecil menuju Gua Hiro yang terletak di sebuah tebing terjal . ia lebih dahulu menuju Gua Hiro , padahal kami masih terengah-engah karena keletihan .

Di Gua Hiro Yang Sempit.

Dari puncak Jabal Nur , kami lalu menuruni lorong terjal ke Gua Hiro yang letaknya sekitar 10 meter dari Puncak Jabal Nur . Ukuran Gua Hiro  sekitar 1,5 x 3 meter dan tingginya 2 meter . Hanya maksimal 3 orang yang bisa berada didalam Gua Hiro . Disisi kanan  Gua Hiro terdapat jurang terjal yang dibawahnya terlihat Mina dan padang Arafah .Kami membayangkan bagaimana Nabi Besar Muhammad Saw menerima Wahyu dengan perantaraan malaikat Jibril , jauh diatas Bukit yang terjal , dalam kondisi hening . Kami lalu berdoa kepada Allah Swt memohon rahmat dan magfirahNYA . Tidak lama kami anggota Tim Liputan Haji berada di Gua Hiro , sebab harus memberi kesempatan kepada jemaah yang lain untuk ziarah ke sana . 

Kami lalu melakukan perjalanan kembali ke kaki bukit . Teman kami tehnisi RRI Jakarta itu tampak puas bisa ziarah ke Gua Hiro .Kini teman itu telah Almarhum , beberapa tahun setelah menunaikan Ibadah haji ia meninggal dunia . Demikian juga Bung Sudirman Halla , juga sudah Almarhum setelah beberapa tahun purna tugas sebagai Karyawan RRI . Semoga kami dapat kembali lagi ke Tanah Suci Mekkah menunaikan ibadah Haji atau Umroh .( Bochri Rachman ).

Komentar (1)

Feed
...
Subhanallah... Maha besar engkau ya ALLAH... semoga sebelum ajal menjemput, saya juga bisa mengikuti jejak Bapak dkk utk bisa terpanggil utk melaksanakan ibadah ke tanah suci bersama seluruh keluarga besar saya... Aamiin... Salam hormat dari lantai 5 ktr pusat jakarta. Arif.. (YB8CI)

Redaksi : Amin . Insya Allah Bung Arief dan Keluarga akan bisa memenuhi panggilan untuk menunaikan ibadah haji bersama keluarga .
Arif idrus Mustafa , 19 September, 2013

Tulis Komentar

kecil | besar

busy
Presets
BG Color
BG Patterns
Accent Color
Apply