Perempuan Perkasa Di Hajar Aswad. oleh: Kabul Budiono

Minggu pagi, 1 Juli 2012. Usai shalat subuh berjamaah, Ka’bah kembali padat dikelilingi jemaah Umrah dan muslimin serta muslimah dari berbagai altpenjuru dunia untuk bertawaf. Lantunan doa dan gema dzikir memuji kebesaran Allah menggaung seiring langkah langkah para jamaah yang terus berkeliling Baitullah. Sayapun ikut larut dalam pusaran yang senantiasa dirindukan oleh mereka yang pernah berkunjung ke rumah Allah ini.

Hampir menyelesaikan putaran ke tujuh terbersit niat dan doa untuk menyentuh dan mencium Hajar Aswat yang ada di pojok di samping kanan pintu Baitullah. Dua kali pergi ke tanah suci dalam rangka meliput kegiatan haji dan melaksanakan rukun Islam ke lima itu, saya memang belum menyambangi batu yang turun dari langit itu. Dalam laporan infohaji yang saya siarkan 17 tahun lalu, senantiasa saya laporkan bagaimana penuh sesaknya lokasi di sekitar Hajar Aswat. Diperlukan upaya keras untuk dapat menyentuh dan menciumnya saat musim Haji ataupun umrah, khususnya di bulan Ramadhan.

Dalam laporan langsung sedikitnya dua kali saya menyiarkan penjelasan ustadz yang saya wawancarai mengenai hukum dan aturan mencium Hajar Aswad. Dengan jelas diterangkan bahwa mencium Hajar Aswat bukanlah salah satu rukun haji atau Umrah. Karena itu tidaklah harus berdesak desakan atau memaksakan diri untuk melakukannya. Saya juga memberikan gambaran bagaimana tidak sedikit orang yang sampai harus mendesak dan menghimpit orang lain hanya untuk ibadah yang bukan wajib itu.

Namun pagi itu, Minggu 1 Juli 2012, saya tiba tiba ingin melakukannya. Keberadaan saya di Mekah kali ini adalah sebagai anggota tim RRI melakukan pelatihan produksi berita kepada staf KJRI Jeddah, Mukimin, Pelajar, Mahasiswa dan TKW agar suatu kali mereka siap menjadi kontributor RRI. Kami juga melakukan sosialisasi RRI khususnya Siaran Luar Negeri yang saya pimpin, serta menyelenggarakan acara dialog interaktif Kampung Halaman.

Keinginan itupun saya wujudkan dalam usaha disertai doa. “ Ya Allah hambaMu ini ingin mencium batu hitam itu. Ijinkan dan mudahkanlah “ . Maka pada akhir putaran ketujuh dengan pelahan saya bergerak menyelinap di antara jemaah lain mendekati dinding Ka’bah. Alhamdulillah, saya dapat menyentuh dinding Ka’bah masuk dalam pusaran manusia yang berkutat dan berjuang ke arah batu hitam. Desakan dan himpitan sangat terasa.

Seorang jemaah yang juga merapat di dinding Ka’bah mendesak saya dan meminta saya terus bergerak. Namun barisan sesudah saya berhenti. Desakan datang dari arah luar.“ Pak Haji, kesini. Kami bantu pak Haji mencium Hajar Aswad’, tiba tiba terdengar suara seorang perempuan berbusana hitam. Saya lihat wajahnya yang tidak tertutup cadar. “ Mari Pak Haji terus merapat “, demikian ia meminta saya terus merapat ke dinding Ka’bah.” Biar sendiri saja “, demikian saya menjawab. Astaghfrullah. Penolakan itu muncul karena saya berprasangka ia akan meminta imbalan.

“ Ya pak Haji, ayo terus bergerak kami membantu pak Haji “, saya dengar suara perempuan lain disebelah kanan saya. Seorang perempuan berbadan kecil dan lebih rendah dari saya menawarkan diri membantu saya.

Saya pun mengiyakan. Kamipun terus berdesak desakan. Beringsut sedikit demi sedikit di tengah desakan jemaah lain yang sebagian bertubuh tinggi besar. Kedua perempuan bertubuh kecil itu berusaha keras memberi saya ruang untuk bergerak

“ Pak Haji pergi sama istri , demikian tanya perempuan berbaju hitam di antara desakan orang.

“ Tidak ‘, demikian saya menjawab singkat. Untuk kali inipun saya tidak pergi bersama istri. Dalam doa saya setiap kali, selalu saya sebut nama istriku Eni. Saya bermohon kepada Allah agar suatu kali kami dapat bersama berada di tanah suci ini.

" Sudah berapa lama di Mekkah ?. saya bertanya untuk memenuhi rasa ingin tahu saya .

“ Sejak dua ribu empat Pak Haji “, perempuan berbaju hitam itu menjawab.

“ Ayo pak Haji, terus bergerak dan berpegangan pada dinding Ka’bah”, demikian perempuan bebaju putih itu mengingatkan saya kembali. Sayapun terus beringsut. Jaraknya hanya tinggal satu meter, namun desakan dan himpitan semakin kencang. Perempuan bertubuh kecil itu, entah bagaimana dapat bertahan di tengah himpitan manusia manusia bertubuh besar itu.

“ Hati hati kecempet “ Demikian kata saya memperingatkan.

“ Tidak apa apa pak Haji. Ayo sekarang pak Haji naik keatas “, katanya kemudian.

“ Naik kemana ? “

“” Kesini pak Haji “dinding Ka’bah bagian bawah itu memang agak melengkung sedikit.

“ Ayo pak Haji. Naik “ Demikian perintah perempuan berbadan kecil dengan nafas tersengal di tengah himpitan manusia yang secara emosional berebut mencium Hajar Aswat.

Dengan menggenggam kain penutup Ka’bah, sayapun naik ke dinding Ka’bah. Persis yang dulu saya lihat ketika laporan info haji tujuh belas tahun lalu. Kini, saya melakukannya. Dua perempuan itupun menyuruh saya terus bergeser. Dari bagian itu saya dapat melihat betapa emosional wajah wajah yang berebut tempat itu.

“ Hajjiiii. Allahu Akbar Hajiiii… Hajiii “ Saya dengar jeritan seorang perempuan. Masya Allah seorang perempuan bertubuh kecil, sedang terjepit di antara desakan laki laki bertubuh besar. Ia menjerit dan meminta agar diberi ruang. Saya lihat Ia terjepit. Mukanya menempel di dinding. Tetapi akhirnya ia dapat merapat ke Hajar Aswat.

“ Sekarang pak Haji turun. Tetap berpegang disitu nanti pak Haji tergencet. Terus terang saja, saya agak gentar. Tetapi kemudian berdoa memohon perkenannya sehingga bangkit lagi semangat saya. Semula terbayang oleh saya, bagaimana jika saya terpeleset jatuh, tehimpit dan terinjak.

Sayapun menurut petunjuk kedua perempuan yang berusaha memandu saya itu. Setelah melepas pinggiran kain sayapun berusaha memegang ikatan tali. Saya memegangnya. Tetapi seorang asykar yang berdiri dan berjaga di samping Hajar Aswat segera merenggut tali itu. Tali itu memang untuk dia berpegangan. Akhirnya sayapun turun. Di tengah himpitan orang saya bergeser ke kanan dan ….. Subhanallah saya berada persis di depan Hajar Aswat.

“ Ayo pak Haji membungkuk masukkan muka pak Haji. Cium Hajar Aswat dan berdoa.

Sayapun berusaha memasukkan wajah saya dan…. masuk. Saya melihat bagian dalam cekungan tempat Hajar Aswat.

“ Ayo pak Haji. Cium. Berdoa ‘ Saya mendengar suara perempuan itu.

Sayapun mencium, menjilat sambil berdoa kepada Allah. Cukup lama rasanya sampai saya mengeluarkan wajah saya. Perempuan berbaju putih itu masih di samping saya. Sayapun melihat keluar. Kerumunan orang. Desak desakan dan himpitan. Rasanya sulit untuk keluar. Saya mengangkat tangan kanan saya memberi aba mau keluar dari kerumunan. Tiba tiba seorang berpakaian ihram bertubuh besar dengan berewok dan janggut mengangkat tangannya kemudian merenggut telapak tangan saya dan menarik saya keluar.

Subhanallah. Segera saya keluar dari himpitan dengan nafas lega. Perempuan berbaju putih itu masih berada di samping saya. Tetapi sejak mencium Hajar Aswat saya tidak lagi melihat yang satunya.

Sayapun shalat sunat. Saya bersyukur dan terharu. Selesai shalat perempuan itu tidak lagi berada di samping saya.

Masya Allah, saya belum mengucapkan terima kasih kepada mereka. Sayapun tidak tahu siapa mereka. Mungkinkah mereka malaikat ? Rupanya bukan.

Umi Iryani salah seorang anggota rombongan kami, rupanya tanpa sengaja melihat bagaimana saya memanjat dinding Ka’bah.

“ Luar biasa, pak Kabul. Ketika mencium Hajar Awat dilindungi dua orang wanita “ Umi melihat bagaimana kedua perempuan itu melindungi saya, menahan desakan jemaah yang hampir semuanya laki-laki bertubuh besar .

Dua perempuan itu bukan malaikat. Mereka manusia biasa. Yang tidak biasa adalah kemauan dan keuletannya membantu saya. Saya tidak memberi imbalan apapun. Ucapan terima kasihpun belum saya sampaikan. Astaghfirullah.

Mekah, 1 Juli 2012. ( dikutip dari kompasiana.com ).

Komentar (0)

Feed

Tulis Komentar

kecil | besar

busy
Presets
BG Color
BG Patterns
Accent Color
Apply