OptimisRRI Lebih Maju. ( Menyambut 67 Tahun RRI ).

altWalau saya tidak sempat menghadiri Undangan Kepsta RRI Mataram dalam penyulutan obor Tri Prasetya Hut 67 RRI , tetapi jiwa dan semangat sebagai Insan Radio tetap melekat . Berikut tulisan saya tentang RRI pada Usianya yang ke 67 .

Saya juga tidak sempat mendengar apa yang disampaikan Dirut RRI Niken Widiastuti yang dibacakan seluruh Kepsta dan Kasatker tanggal 11 September . Tetapi saya yakin intinya adalah progres tentang perkembangan dan masa depan RRI . Di face book saya menulis status tentang rasa optimis terhadap masa depan RRI , asalkan semua insan radio terutama pada pimpinan RRI memiliki komitmen moral yang tinggi untuk kemajuan lembaga penyiaran publik ini . Salah satu kuncinya adalah komitmen untuk mengutamakan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi dan kolega. Sebab tidak jarang pimpinan terjebak kepada keberpihakan kepada para kolega yang dikemas seakan untuk kepentingan lembaga .

Cara pandang seperti itu cepat atau lambat akan merugikan lembaga , sebab akan menimbulkan ketidak adilan . Jika rasa keadilan mulai dicederai , akan merupakan pertanda kemerosotan lembaga , kendati secara kasat mata terlihat maju . Tetapi jika diytelaah lebih dalam , maka akan terlihat suasana kropos yang menyebabkan tim menjadi rapuh .

Lembaga Penyiaran Publik RRI , sudah pasti mencatat perkembangan yang jauh lebih maju dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Jika tidak terdapat kemajuan maka tidak ada gunanya lembaga ini memberi fasilitas lebih kepada para elit RRI mulai dari Dewas , Direksi dan para pimpinan Satker di seluruh Indonesia . Banyak hal yang bisa dicatat yang pernah diungkapkan Dirut LPP RRI baik pada masa Parni Hadi maupun pada periode Niken Widiastuti . Di Masa Parni Hadi telah ditanamkan model birokrasi yang dinamis sehingga mampu bergerak cepat . Sebagai seorang jurnalis , Parni Hadi memiliki idealisme yang tinggi untuk diwujudkan dalam berbagai program . Ternyata mampu mengangkat citra RRI ke ajang nasional maupun internasional . Sebut saja kemampuan Parni Hadi menjadikani RRI sebagai lembaga yang sangat komitmen memajukan kebudayaan , sehingga seakan -akan melebihi lembaga yang memang bertugas untuk mengelola kegiatan kebudayaan . Tidak ada satupun RRI di seluruh Indonesia yang tidak pernah menyelenggarakan gelar budaya , sehingga citra RRI sangat terangkat kepermukaan . Citra ini sedikit menyelimuti masih adanya acara-acara siaran yang kurang berbobot tetapi dibiarkan bertahan . Saya masih ingat tokoh Senior RRI Drs. Haji Mursdi Noor yang mengirim SMS ke no HP saya, menyatakan rasa tidak puas dengan gencarnya gelar budaya , sehingga hamnpir tugas pokok RRI dibidang penyiaran disalip oleh gelar budaya . " Ini salah kaprah " kata Drs. Mursid Noor kepada saya. Tetapi bagaimanapun gelar Budaya tetap merupakan salah satu aset yang dipertahankan di masa Niken , kendati masih dikemas dengan kreatifitas yang lebih aktual .

Kepemimpinan Parni Hadi yang harus bergerak cepat , menyebabkan banyak Kepsta yang kedodoran , tidak mampu berlari kencang seperti yang dicontoh Parni Hadi . Banyak gagasan yang dituangkan dalam program , tetapi kurang ditindak lanjuti oleh struktur dibawah Parni Hadi dan sejumlah Kepsta . Gagasan 3 ini 1 yang disuguhkan Parni Hadi di awal jabatannya tahun 2005 , belakangan ternyata merupakan sinyal menuju konvergensi media yang meliputi semua bidang media termasuk didalamnya media on line . Ketika kalangan DPR menginginkan agar RRI-TVRI dan Antara dijadikan satu lembaga besar , terbuktilah gagasan 3 in 1 Parni Hadi merupakan pemikiran besar bagi media LPP RRI ini . Namun sampai kini keinginan mewujudkan konvergensi media belum terwujud. RRI maupun TVRI masih berjalan setengah-setengah ke arah itu , sebab masing-masing masih kuat mempertahankan eksistensi masing-masing . Kalaupun nanti akan terwujud penggabungan RRI-TVRI ,tetapi  tetap diinginkan oleh insan kedua lembaga itu eksistensi RRI maupun TVRI tetap terpelihara . Dipihak lain banyak anggota Komisi I DPR RI menginginkan penggabungan secara utuh dengan nama RTRI ( Radio Televisi Republik Indonesia ) . Barangkali akan sangat sulit mempertahankan eksistensi masing-masing lembaga , jika menginginkan penggabungan sacara untuk untuk kemajuan dan effisisensi menuju lembaga penyiaran publik yang benar-benar berkelas dunia , bukan sekedar bertengger didalam impian atau visi .

Masih mengenai catatan LPP RRI dimasa Parni Hadi . Salah satunya adalah keberhasilan RRI didalam menyelenggarakan quick report pada Pemilu legeslatif 2009 dan Pemilu Presiden / Wapres 2009 lalu . Pada waktu itu diakui ada 2 media elektronik di dunia yang menyelenggarakan quick report secara mandiri atau tidak menggandeng lembaga survey , yaitu  CNN dan RRI ( mengutip Parni Hadi ) . Banyak pihak memberikan respon positif ketika RRI sukses dengan quick Report dengan methodologi yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan . Dengan sampel yang  mencapai puluhan ribu TPS menjamin tingkat kegagalan sangat kecil . Saya mendengar quick Report RRI akan di selenggarakan pada Pemilu legeslatif  dan Pemilu Presiden / Wapres 2014. Dirut RRI Niken Widiastuti dalam sambutan tertulis yang didengar beberapa anggota keluarga saya di rumah menginginkan dengan QR , RRI adalah media pertama yang akan menyampaikan hasil pemilu legeslatif kepada pendengar di seluruh tanah air dan seluruh dunia . Semoga .

Niken dan teman-teman Direksi LPP RRI sekarang ini , jelas mewarisi apa yang dihasilkan oleh Timnya Parni Hadi dan Timnya Suryanta Saleh ( Perjan ) sebagai modal yang sangat berharga untuk mencapai kemajuan . Tentunya tidak semua hal bisa diambil dari warisan itu , sebab hal-hal yang kurang bagus harus diperbaiki, sedangkan hal-hal yang baik semestinya dilanjutkan . Yang tidak boleh dipelihara di masa siapapun adalah  adanya Mark Up didalam pengadaan barang dan jasa . Kasus mark Up yang terjadi di masa Perjan tidak boleh terulang kembali di masa LPP . Oleh karena itu LPP RRI harus berhati-hati didalam pengadaan barang dan jasa . Pada tahun 2011 lalu muncul beberapa kasus yang menjadi perhatian dalam pengadaan pemancar FM 15 kw dan studio digital  dengan anggaran milyaran rupiah . Setidaknya ada 2 stasiun yang muncul kepermukaan dalam kaitannya dengan pengadaan barang dan jasa yaitu RRI Jayapura dan RRI Manado . Walaupun belum ada indikasi korupsi , tetapi persoalan tentang belum berfungsinya pemancar dan peralatan digital sesuai ketentuan menimbulkan tanda tanya. Misalnya di RRI Jayapura sampai dengan Juni 2012 lalu pemancar FM 15 Kw , dikabarkan berfungsi 5 kw , kalau dipaksakan 10 kw menimbulkan panas yang menghawatirkan .

Di Bidang penyiaran , era Nike Widiastuti mencatat banyak kemajuan . Misalnya menjadikan RRI sebagai Bagian Anggran tersendiri . Anggarannyapun semakin meningkat sehingga lebih leluasa untuk meningkatkan perkembangan siaran . Niken menindak lanjuti apa yang dimulai Parni Hadi , yaitu adanya RRI di perbatasan . Bahkan setidaknya ada 5 SP RRI dari 17 yang ada , ditingkatkan statusnya menjadi stasiun RRI Type C . Demikian pula gagasan adanya perwakilan RRI di luar negeri di wujudkan oleh Niken dan Timnya . Persoalannya apakah perwakilan RRI itu sudah effektif atau bekum . Ternyata menurut sumber di RRI , rata-rata belum berfungsi sesuai keinginan . Itulah sebabnya ketika IS akan mengangkat tentang Perwakilan RRI di luar negeri , salah seorang pejabat senior mengatakan jangan dulu diangkat .

Ada catatan penting yang menjadi kebanggan Tim Niken selama 3 tahun menjabat Direksi, yaitu redesign programa RRI di seluruh Indonesia . Keberhasilan di Direktorat Program dan produksi ini dicatat sebagai keberhasilan yang membuktikan Tim Niken tidak main-main didalam mengelola siaran RRI. Tetapi apakah adanya redesign ini menjamin pendengar RRI semakin bertambah atau bahkan semakin berkurang ?. Jawabannya masih memerlukan survey pendengar yang tidak mudah dilakukan sebab memerlukan biaya besar . Namun yang jelas dengan redesign ini banyak acara-acara yang menjadi idola pendengar di sebagai daerah misalnya Makassar justru tergusur , sebab mata acara dan jam siar harus disesuaikan dengan redesign . Kekecewaan pendengar dengan adanya keakuan untuk menerapkan redesign itu disampaikan kepada Ketua Dewas , bahkan mereka berencana menyampaikan aspirasi itu kepada Komisi I DPR RI. Jawaban Ketua Dewas , redesign itu akan dievaluasi dalam 6 bulan . Sampai hari ini setelah lebih 6 bulan program redesign masih tetap berjalan . Seharunnya RRI lebih fokus kepada meningkatkan kualitas konten dan mempertahankan pendengar , ketimbang melakukan redesign yang mengadokpsi pola Daypart yang pernah ditetapkan lama tetapi kurang membantu untuk meningkatkan jumlah pendengar RRI . Menelaah redesign , cendrung kepada menyeragamkan pola acara siaran diseluruh Indonesia . Padahal perkembangan justru menginginkan adanya desentralisasi , bukan sentralisasi . Kekecewaan terhadap redesign bukan hanya dari pendengar , tetapi juga dari kalangan RRI daerah sendiri yang tidak sejalan dengan pemikiran itu . Tetapi karena merupakan satu tim maka , mau tidak mau harus diterima . " kami bingung dengan redesign ini , kata salah seorang pejabat struktural RRI di daerah .

( Bochri Rachman- Bersambung ).

Komentar (1)

Feed

Tulis Komentar

kecil | besar

busy
Presets
BG Color
BG Patterns
Accent Color
Apply