" Kok Masih Ada Yang Mau Memotong Honorarium Sipemb ?.

Infosketsa 20 Juni 2012 .Dewas dan Direksi LPP RRI berhasil menjadikan RRI sebagai Bagian Anggaran ( BA ) sendiri. Ini suatu prestasi yang harus diakui  . Dengan menjadi altBagian Anggaran sendiri RRI i sudah memiliki mata anggaran sendiri di APBN , sehingga kebijakan pengelolaan anggaran dilakukan sendiri sesuai dengan ketentuan yang berlaku .

Salah satu keberhasilan Direksi LPP RRI adalah meningkatkan anggaran siaran dan pemberitaan dengan angka yang cukup signifikan . Misalnya sebelum RRI menjadi BA sendiri anggaran siaran-pemberitaan di RRI Type C diatas Rp 300 juta , Type rata-rata hampir Rp 1 milyar dan Type A diatas Rp 1 milyar . Angka itu tentunya bertambah setelah RRI menjadi BA sendiri .Ini suatu perjuangan panjang yang melelahkan . Oleh karena itu mulai dari Kantor Pusat Jakarta , Kasatker dan Kepsta sampai pada pejabat struktural harus memiliki komitmen untuk memanfaatkan anggaran RRI sesuai RKAKL dan DIPA .

Peningkatan anggaran Siaran-Pemberitaan yang menjadi core bisnis RRI itu dimaksudkan untuk meningkatkan bobot atau kualitas siaran dalam memberikan  pelayanan kepada masyarakat sebab uang yang digunkan adalah uang rakyat . Adalah tidak mungkin meningkatkan bobot siaran jika anggaran yang disediakan tidak mencukupi . Itulah sebabnya Dewas dan Direksi memiliki komitmen untuk menjadikan operasional siaran menempati anggaran yang besar dibandingkan dengan mata anggaran operasional lainnya .

Jika sebelumnya anggaran Pemeliharaan RRI jauh lebih besar dibandingkan dengan anggaran siaran pemberitaan . Misalnya pada tahun 2007 anggaran siaran dan pemberitaan untuk RRI Type B sekitar Rp 350 juta , sedangkan Type C mendekati Rp 150 juta . Pada tahun 2008 anggaran itu meningkat sangat tajam , Type C anggaran operasional siaran sudah rata-rata diatas Rp 300 juta sedangkan Type B diatas Rp 600 juta per tahun . Pada tahun 2009- 2010 anggaran operasional siaran meningkat lagi misalnya Type C sudah diatas Rp 350 juta sedangkan Type B mencapai Rp 700 juta . Dan tahun berikutnya anggarannya jauh lebih besar .

Lalu mengapa peningkatan bobot acara siaran dan pemberitaan di sebagian stasiun RRI  tidak terlalu signifikan seperti peningkatan anggarannya . Banyak kalangan internal RRI mengatakan bobot acara siaran pemberitaan banyak berjalan di tempat. Misalnya pola pemberitaan RRI belum banyak berubah . Hal ini terlihat dari penilaian didalam KPID award yang masih menyisakan bentuk yang monoton . Demikian juga dengan kecepatan informasi dikaitkan dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat akan informasi . RRI masih belum bisa mengejar kecepatan media lain . Demikian pula dengan acara siaran lainnya seperti siaran pedesaan , siaran musik dll yang belum berubah secara signifikan . Mengapa terjadi seperti itu ?.

Keinginan Dewas dan Direksi dengan peningkatan anggaran yang signifikan itu adalah peningkatan kualitas . Pertanyaannya apakah anggaran sebesar itu benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan siaran dan pemberitaan ?. Saya pernah bicara langsung dengan Ibu Niken Widiastuti di  Denpasar Bali  ketika ia sebagai Direktur PP . Ia heran mengapa bobot acara siaran kita bergerak lamban . Saya mengatakan persoalannya adalah terletak pada  pemanfaatan anggaran operasional Siaran - Pemberitaan . Coba dicek apakah penggunaannya tepat sasaran. Tentunya tidak semua stasiun RRI memanfaatkan anggaran juga untuk kepentingan lain. Tetapi harus diakui masih ada stasiun RRI yang melakukan penyimpangan anggaran siaran dan pemberitaan  .

Salah satu contoh di sebuah stasiun RRI Type c di ibukota Propinsi  , meneteskan biaya operasional pemberitaan hanya Rp 3 juta pe bulan , padahal jumlah anggaran yang tersedia sudah mencapai lebih Rp 120 juta pertahun  , belum lagi untuk liputan Pro3  , liputan idul fitri , liputan haji dll semua tertera jelas anggarannya . Tetapi staf pemberitaan hanya menerima , padahal yang mereka terima tidak jauh lebih besar dibandingkan dengan anggaran tahun 2000 an. Para staf akhirnya bekerja sesuai dengan anggaran yang tersedia , kurang inovasi ,kurang kreatif dan kurang bobot . Bobot berita jauh dibawah keadaan tahun 1997 . Mengapa seperti itu ?. Jawaban mereka , tidak mungkin berbuat banyak dengan anggaran yang hanya Rp 3 juta sebulan .

Saya mencoba membisikkan kepada teman saya yang akan menjadi Kepsta di RRI tersebut   . " kunci keberhasilan siaran- pemberitaan jangan pernah memotong  anggaran , jangan menyunat honorarium merek  " . Ketika ia  menempati posisi itu , ia langsung menggelontorkan anggaran sebesar Rp 6 juta per bulan atau 2 x lipat dari sebelumnya . " kok bisa ?" . Ya pasti bisa sebab anggarannya sudah tersedia dan cukup besar. Kebijakan Kepsta baru itu disambut dengan peniningkatan Kinerja  . Sekarang pemberitaan di RRI yang saya sebut tadi rata-rata menerima Rp 8 juta per bulan . Lalu mengapa masih ada RRI Type C yang lain  ,  seperti yang ramai di masalahkan  hanya menggelontorkan Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per bulan padahal anggarannya Rp 311 juta per tahun ?.Secara hitungan anak SD seharusnya anggaran setiap bulan minimal digelontorkan Rp 12 juta untuk honorarium siaran dan pemberitaan , selebihnya untuk liputan khusus . RRI Batam ternyata bisa menggelontorkan angka Rp 12 juta per bulan .

Mari kita lihat bagaimana sebenarnya RRI menyediakan anggaran yang cukup lumayan , tetapi selalu dikatakan kurang . Kita jadikan RRI Makassar sebagai sampel .Ketika RRI Makassar tahun 2005 sudah bisa menggelontorkan anggaran Rp 12 juta perbulan untuk pemberitaan , tetapi RRI lain yang se type dengan Makassar hanya berkutat pada angka Rp 6 juta . Kemudian pada tahun 2006 RRI Makassar sudah bisa menggelontorkan anggaran Rp 15 juta per bulan untuk pemberitaan , di RRI lain yang se type masih berkutat pada angka Rp 7 juta . Itulah sebab Sofrani Razak Kabid Pemberitaan waktu itu menjadi sangat heran ketika ia mengetahui kalau anggaran pemberitaan Type B di RRI yang ia kunjungi hanya mendapat jatah anggaran maksimal Rp 7 juta . " kami di Makassar sudah disediakan biaya operasional Rp 15 juta per bulan " katanya kepada koleganya di RRI Type yang dikunjungi.

Saya masih ingat ketika saya bertugas sebagai Kepsta RRI Bengkulu sekaligus menyelesaikan kasus Korupsi yang terjadi tahun 2001 . Didalam keterpurukan citra RRI , satu-satunya cara adalah meningkatkan kualitas siaran dan pemberitaan . Kebijakan yang ditempuh , jangan pernah memotong anggaran siaran dan pemberitaan dengan alasan apapun . Waktu anggaran operasional siaran hanya Rp 62 juta per tahun  Saya mempelajari mengapa siaran dan pemberitaan berjalan ditempat. Saya akhirnya mengetahui kalau honor siaran pemberitaan hanya diterima 65 % oleh petugas . Potongannya apa saja ?. Pertanyaan saya kepada Kepala Urusan Keuangan . Jawabnya adalah 15 % potongan Pajak Penghasilan ( PPH ) dan 20 % untuk saving . Kebijakan yang saya ambil adalah menghapuskan saving 20 %  sehingga hanya ada satu jenis potongan yaitu PPH sebab itu peraturan . Dalam waktu singkat citra RRI Bengkulu berubah dari keterpurukan menjadi RRI yang menjadi idola masyarakat  .

Mendengar apa yang saya katakan ketika berbincang di sela minum kopi dengan Ibu Niken tahun 2009 itu , beliau baru tahu kalau sebagian stasiun RRI mempermainkan anggaran operasional Siaran dan Pemberitaan itu . Saya katakan , kalau  RRI mau maju dan acaranya  bekualitas jangan pernah biarkan pemotongan  honorium   acara siaran dan pemberitaan .

Praktik pemotongan honorarium acara siaran dan pemberitaan ternyata masih terjadi di stasiun RRI tertentu yang besarnya signifikan 30 %  . Saya tidak akan sebut nama stasiun itu sebab masih ada waktu untuk mengurungkan keinginan pemotongan itu . Adalah sangat bijaksana dan membantu Direksi memajukan RRI jika pemotongan itu dibatalkan . Tetapi jika terus berlangsung , Natsir Isfa mengatakan itu berarti mengambil hak karyawan . Yang dihawatirkan jika karyawan menempuh jalur hukum untuk mempertahankan hak-hanya . Jika itu terjadi maka akan sangat terpuruk citra RRI . Direksi tidak mungkin menekan karyawan agar tidak menempuh jalur hukum , sebab jalur hukum adalah hak setiap warganegara yang merasa hak-hanya dilanggar .

Anggota Dewas IB Alit Wiratmaja justru berterima kasih kepada IS yang mengangkat adanya indikasi pemtongan honorarium acara siaran dan pemberitaan . Sebab menurut IB Alit Wiratmaja semua anggaran yang terdapat didalam DIPA harus dipergunakan sesuai perencanaan , peruntukannya, sesuai jumlah anggarannya dan dapat dipertanggung jawabkan . Jadi bukan untuk kepentingan lain apalagi untuk saving .

Kini apa yang dilakukan pimpinan RRI diawasi langsung karyawan . Mereka tidak lagi seperti dulu hanya diam ketika terjadi kebijakan yang bertentangan dengan aturan . Mereka tidak mungkin melakukan protes langsung kepada atasannya , sebab itu sama dengan bunuh diri . Kini jejaring sosial seperti face book dan twitter dijadikan media keluh kesah. Lihat saja dinding PB PNS RRI yang penuh keluh kesah . Pimpinan tidak bisa lagi melakukan tekanan agar karyawan bungkam tidak bersuara , sebab tersedia beragam jejaring sosial untuk menyalurkan aspirasi . Semoga RRI akan berkelas dunia dengan pemanfaatan anggaran milyaran rupiah untuk operasional siaran pemberitaan sesuai RKAKL dan DIPA . ( Bochri Rachman ) .

Komentar (2)

Feed
...
Pak hajji Bob. Saya selalu mengikuti tulisan antum di IS,skrg sy komen,kok msh ada kasatker yg menggunakan kuasa utk menjadikan honor sipem sbg atm,seharusnya kasatker melindungi kryawan dr hal2 seperti itu,bukan jd algojo.
lanjutkan bob kami para purna mendukung ,smoga kasatker yg spt itu kembali kejaln yg benar,Allahuakbar
H.mahdan-ds.agung,mataram , 21 June, 2012
...
Terlalu banyak raja-Raja kecil dinegeri ini..
susah, mau jujur emang jalan ditempat.
percuma Redesigne cuma hanya sekedar omongan dan ocehan belaka.
Redesigne seharusnya untuk kemampuan dari SDM satker yang ada.
paham-paham senoritas yang mengatas namakan " Demi RRI " harus dibuang.
Toh ketika di amati dan berikan kepercayaan oleh SDM yang sudah upgrade kemampuan, malah membengkakkan kocek sendiri.
ga terlebih dari kepala sampai ke ujung Kuku.
kecewa dengan orang-orang yang berada didalamnya dan hanya mengotori tempat Terhormat ini.
lady Red , 21 June, 2012

Tulis Komentar

kecil | besar

busy
Presets
BG Color
BG Patterns
Accent Color
Apply