TVRI Terapkan Jurnalisme Damai .
30 May 2012
Oleh: TVRI Kaltim
Ketika pemberitaan menayangkan kejadian pertikaian dan kekerasan , menyampaikan fakta dari lapangan secara langsung, membuat khalayak percaya

akan informasi itu dan menjadi ajang bisnis media di Indonesia. Tetapi TVRI tidak mau terjebak dengan hal itu , dan tetap dengan peace jurnalism .
Konflik maupun pertikaian , kekerasan kini menjadi ancaman besar bagi
masyarakat . Bagaimana tidak , bangsa Indonesia sangat mudah terpancing
emosi , apalagi menyangkut harga diri , agama , suku dan ras .
Sementara itu Rating penyiaran ataupun pemberitaan menjadi tujuan utama
dari pihak media massa, meski tidak menutup kemungkinan dapat membuat
konflik makin panas dan berkepanjangan.
Disinilah hadir peace jounalism atau jurnalisme perdamaian untuk
meluruskan persepsi yang selama ini dimiliki sebagian jurnalis, bukan
sebagai juru damai, tetapi upaya jurnalis dalam mengurangi konflik dan
memberikan win-win solution melalui pemberitaan.
Jurnalisme perdamaian hadir dengan tidak mengangkat data berupa angka,
atribut ataupun pihak yang bertikai maupun siaran secara langsung dari
tempat kejadian.
Lawan kata dari jurnalisme perang ini, lebih mengungkap data berupa
kerusakan yang diakibatkan dari konflik dan menyuarakan jeritan korban.
Jurnalis perdamaian tidak berdiri disatu pihak saja, tidak pula
memandang dalam satu sudut pandang, tetapi berdiri diantara pihak yang
berkonflik dan menggunakan strategi bird eyes view atau memandang
konflik dari ketinggian.
LPP TVRIÂ menginginkan peace jurnalism dapat diterapkan dalam kegiatan peliputan.
Oleh karena itu Balai Diklat TVRIÂ menggelar workshop peace journalism
selama lima hari dari tanggal 16 s/d 20 April 2012 di Hotel MJ Kota
Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. Pembukaan Workshop oleh Ketua
Dewas LPP TVRI, Elfisdat dan dihadiri Direktur Program &Berita,
Irwan Hendarmin, serta Kepsta TVRI Kalimantan Timur, Syarifuddin Lakku.
Selain itu hadir Anggota Dewas Bambang, Direktur Teknik, Erina Tobing serta Direktur Pengembangan Usaha, Erwin Aryanantha.
Workshop yang diikuti tidak kurang dari 12 peserta, berasal dari TVRIÂ
di wilayah Timur Indonesia, yang rawan terhadap konflik dan pertikaian.
Pemateri dalam workshop ini, diantaranya Purnama Suwardi Kepala Balai
Diklat TVRI, Saur Hutabarat dari pimred Media Indonesia, Wahyu, pimred
majalah Tempo dan Sukirman, kepala bidang perencanaan program Balai
Diklat TVRI. ( Swi Rachmawati- TVRI Kaltim ).