Surat Terbuka Buat Direksi RRI Dari Seorang Karyawan .

Pertanyaan ini sebenarnya saya persiapkan jika suatu saat akan ada pertemuan pleno  Jajaran Dewas & Direksi RRI.dengan seluruh karyawan namun altsepertinya hal itu  mustahil dilakukan, melihat kesibukan mereka selama ini. Jadi saya layangkan saja surat pertanyaan ini ke situs infoskesta krn menurut saya IS satu2nya situs yg peduli dengan perkembangan RRI & paling banyak memuat berita2 ttg RRI. Hitung2 ini adalah surat pembaca.

1. Mohon klarifikasi Dir Keu

    Semenjak awal tahun terpantau aktifitas kunjungan dewas kedaerah semakin intens. Tujuan dari perjalanan dinas ini katanya untuk keperluan monitoring.

Analisa sy : jika seorang dewas melakukan 1 kali saja ( padahal dari pantauan bisa lebih) kunjungan setiap minggu kedaerah & setiap kunjungan itu manghabiskan dana 5 juta saja (estimasi terkecil) maka seorang anggota dewas menggunakan anggaran untuk perjalanan dinas sebanyak 20 juta per bulan. Artinya 100 juta perbulan untuk 5 orang dewas atau 1.2 Milyar pertahun.

Bukan apa apa, Anggaran itu lebih besar dibanding anggaran penyelenggaraan oprasional siaran & pemberitaan satsiun type C, yg hanya 800 jta / tahun.

Mohon klarifikasi dari Direksi ( Dirkeu yg paling tepat) apakah estimasi kasar ini benar adanya. Kalo ini benar mohon disampaikan apakah angka ini tidak melebihi pagu anggaran untuk perjalanan dinas sebuah lembaga. Angka ini merupakan hitungan kasar pada perjalanan dinas Dewas saja, belum lagi direksi & pejabat pusat lainnya.

2. Apa khabar Dir SDT & MB

    Alasan utama dari perjalanan dinas para pejabat dari Kantor pusat adalah monitoring siaran & terkadang sosialisasi progam. Tentang ini jdi muncul pertanyaan apakah tak memungkinkan dicipta suatu formula dimana siaran RRI bisa didengarkan di manapun dia berada & kapanpun dia mau. Sehingga untuk kepentingan monitoring siaran  ini tak perlu harus berkunjung kedaerah, cukup di Jakarta.saja, sangkil & mangkus.  Kalau kita mendengar rekaman saat pelaksanaan fit & proper test calon dir SDT, ketika itu Pak Eric ( Dir SDT& MB) menjanjikan RRI akan bisa seperti itu dengan tawaran skema penguatan Konvergensi media. Lha trus, apa kendalanya koq sampai  sekarang hal itu belum bisa terwujud? . Bahkan sampai sekarang  terkadang siaran langsung pagelaran yg disiarkan secara berjaringan menggunakan koneksi telepon sehingga hasilnya Nyaris tak terdengar. Atau, Jangan 2 kami yg terlampau berharap banyak dari Dir SDT & MB.

Begitu juga dgn sosialisasi. Setahu saya pada eranya pak Parni sdh membiasakan metoda sosialisasi nasional via video confrence, lebih efektif & efisien.  Lha sekarang koq malah ditinggalkan. Tim sosialisasi lebih senang berkunjung & berkelana keseluruh penjuru tanah air, hitung2 tour / rekreasi. Weleh weleh....

 
3. Ini masukan Untuk Dirut

Dalam UU no 14  thn 2008 ttg keterbukaan informasi publik & kemudian dipertegas dgn PP no 61 thn 2010 disebutkan bahwa setiap institusi public wajib menunjuk Pejabat pengelola Informasi & dokumentasi (PPID). Disebutkan pula bhw PPID ini hrus sdah dibentuk 1 tahu setelah UU disahkan artinya tahun 2011 harus sudah ditunjuk dan berfungsi. Setahu saya dibeberapa kementrian dan lembaga sudah ditunjuk PPID ini setingkat eselon II. Rata2 yg diberi kewenangan untuk itu adalah Kepala pusat Data & Informasi (Kapusdatin) atau kepala pusat informasi & layanan masyarakat ( Kapusinfoyanmas) atau ada juga PPID dijabat oleh Kepala biro Humas.

Di RRI memang sudah ada web Pusdatin  yg dikelola oleh Direktorat Program & produksi. Tapi informasi yg diberikan masih sebatas hal ihwal programa, padahal dalam PP itu disebutkan bhw PPID mencakup seluruh informasi yg boleh diakses public termasuk anggaran & penggunannya.

Pertanyaanya : seperti apa wujud PPID di RRI itu? Kalau sekarang ada pusdatin maka siapakah Kepala Pusat data & informasi LPP RRI.

4. Ini sekedar saran kepada Dir SDM & Umum

Pelaksanaan Fit & proper test untuk menjaring person2 yg kompeten menduduki jabatan eselon IV & III di RRI perlu diapresiasi karena dengan ini seakan ada langkah yang transparan & profesional. Namun ada pengalaman menarik dari kawan saya yg sudah mengikuti fit & proper test ini. Begini ceritanya, 2 bulan stelah dia ikut F&PT ( untuk eselon III) , dia baru menerima surat  perihal pemberitahuan hasil uji kepatutan & kelayakan dimana disebutkan bahwa nama dia dinyatakan sbb :  Psikotest : disarankan, wawncara : Lulus ditandangani oleh Dir SDM & Umum. Maka dengan bangganya kawan saya itu memperlihatkan surat tsb kepada anak istrinya dengan maksud membuat mereka bangga dengan bapak & suaminya. Ehh, kawan sy tadi sempat kaget & tak tau harus bagaimana menjawabnya ketika  anaknya bertanya “ lantas bapak mau jadi apa”? Pertanyaan dari anaknya itu dimaklumi krn anaknya mengira itu semacam rapor atau ijazah yg buat mereka adalah pertanda naik kelas atau lulus sekolah. Sampai disini kawan sy hanya bisa diam saja.

Waktu berjalan terus, sementara seiring waktu berjalan dia menyaksikan & mendengarkan bhw tmn2 seangkatan dia ikut F & PT  sudah dilantik menduduki pos2 eselon III di daerah & dipusat. Kawan saya tadi berprasangka baik saja bahwa mungkin teman2 yg sdh dilantik itu lulus dengan nilai lebih baik dari dia.

Yg kawan saya prihatinkan adalah kenapa pemberitahuan hasil ini tidak diumumkan secara luas seperti  pengumuman hasil pelaksanaan uji kelayakan & kepatutan yang lazim. Jadi peserta akan paham & bisa ada ukuran hasil capaian. Kenapa harus diberitahukan lewat surat itupun dalam surat itu disebutkan bersifat rahasia. Ini menurut saya menurunkan nilai transparansi & profesionalitas. Ini semakin memperkuat kesan bahwa pelaksanaan F&PT itu hanya formalitas saja.

Nah Kalo memang begitu ini sekedar saran saja sebaiknya dalam pemberitahuan kelulusan berikutnya ditulis LULUS * , nanti dalam keterangan dibawah * (bintang) ditulis *Syarat & ketentuan berlaku” Nah kalau begini kawan saya & tmn lain yg sudah ikut F&PT namun sampai sekarang belum terpilih, akan mengerti bahkan sangat mengerti.

5. Tanggapan dan saran buat Dir LPU.

Terpantau semenjak Pak Adnan ditetapkan sebagai Dir LPU maka seolah direktorat ini digenjot habis2an untuk meraup pemasukan dari Jasinonsi. Puji syukur itu memang ada hasilnya, buktinya apa.?  Semakin banyak spot2 baik ILM maupun yg komersial serta dialog2 interktif yg media ordernya dari Direktorat LPU. Walaupun terkadang ILM, spot2 & tema dialog tidak sejalan dgn format Programa. Selidik punya selidik rupanya marketing dri direktorat LPU dalam aksi menjualnya melakukan aksi yg penting laku, tanpa memedulikan format & estetika siaran. Mereka hanya menjual waktu siar bukan menjual program. Lebih gila lagi bahkan ada klien langganan suatu stasiun yg sudah terbiasa membeli dgn rate yg sdh ditetapkan oleh stasiun tersebut, dengan gembira beralih ke LPU pusat karena ditawari rate yg sungguh jauh berbeda. Berarti marketing LPU pusat melakukan aksi bazaar atau obral murah, sing penting duit masuk. Dimana letak aturanya? Kalo begini hukum rimba namanya.

Ini saran saja, senyampang Dir LPU ( Pak Hasto) terbilang masih gres, apa tdak sebaiknya LPU pusat tdak ikut2an menjual yg ecek2 kasian nanti bertubrukan dgn marketing2 di stasiun. Urusan LPU itu tidak hanya sekedar menjual tapi ada yg lebih besar yaitu membangun citra.

Pada masa  pak Parni dimana Pak Bimo menjadi Dir LU, beliau sdh sangat cerdas mengeluarkan pedoman LU yg didalamnya tertuang tata aturan yg sangat jelas. Didalmnya pula ada strategi membangun citra. Tapi nampaknya oleh penerusnya itu tdk ditindaklanjuti sehingga skrg terkesan menjadi bola liar lagi.

Spertinya tak cukup dir LPU hanya sekedar bekerja keras (kaki jadi kepala kepala jadi kaki ) tapi juga harus berpikir lebih cerdas.

Ini saja, semoga saja mendapat tanggapan dari petinggi RRI

Trimakasih infotsketsa atas dimuatnya surat ini karena sampai detik ini hanya infosketsa yg bisa kami jadikan media untuk berkomunikasi aktif antar angkasawan RRI.

Redaksi IS :  Identitas Penulis Surat Terbuka Ini , ada di Redaksi Infosketsa . IS sengaja merahasiakannya untuk menghindari dampak negatif dari yang bersangkutan . Semoga Dewas dan Direksi berkenan menjawab surat yang tujuannya sangat konstruktif .  Tks Infosketsa.com



 


Komentar (3)

Feed
...
maaf ya.., IS kurang jeli dalam merahasiakan identitas penulis.. sebagai pemerhati dan pencinta situs ini saya bisa langsung tau identitas penulis pak.. trade mark pameo "weleh-weleh" itu kan cuma milik satu orang saja..?? sahabat lama saya di bumi borneo..??? hehehehehe... waspada.com. btw, apa yg disampaikan si penulis itu saya juga merasakan kebenaran nya.. sebagai staf ahli transmisi dan antena di direktorat tmb saya bukan sekedar rekreasi lho mas.. saya menyelesaikan "masalah" tanpa masalah tehnik yg jadi masalah di daerah2.. sambil meng kader para tehnisi junior.. hitung2 utk mendapatkan amal jariah sebelum saya mengakhiri kisah suka dan duka di rri tercinta ini.. salam dari raja ampat.. papua.. arif.

Infosketsa : Bung Arief , jangan terkecoh ha ha yang pakai weleh weleh bukan satu orang . identitas aman kok .
Arif Idrus Mustafa YB8CI , 01 May, 2012
...
Tulisan ini wajib dijawab oleh Dewas or Direksi, bila tulisan ini dibiarkan maka citra institusi LPP RRI menjadi buruk.
Inka , 07 May, 2012
...
Allahmdulillah..ternyata masih ada rekan angkasawan yg bisa menyampaikan apa adanya ttg RRI..walau ientita beliau dirahasiakan...namun dari surat tersebut setidak nya ada benar nya juga dan memang harus mendapat jawaban. RRI tidak akan maju dan tidak ada apa2 nya kalau tidak berubah dan merubah. Karena zaman suah berubah sedemikian cepat,masalah PR kemari belum terselesaikan ditambah dgn banyak PR sekarang ini..salut untuk rekan2 angkasawan di daerah2 yg masih tetap semangan dgn segala keterbatasan.
rini handayani , 10 May, 2012

Tulis Komentar

kecil | besar

busy
Presets
BG Color
BG Patterns
Accent Color
Apply